Kamis, 08 Februari 2018

sebuah alasan untuk jatuh cinta



Banyak alasan yang membuat orang jatuh cinta. Tapi aku hanya memilih alasan yang menurut aku logis.
Aku baru saja menikahi seorang gadis yang baru beberapa hari lalu aku lihat, walaupun tidak sepenuhnya benar. Karena pertama kali aku melihatnya, aku langsung meyakinkan diri ini untuk mencintainya.
___
Menikah karena dijodohkan rasanya campur-campur. Senang karena akhirnya ada yang mau. Di sisi lain, takut jika akhirnya dia tidak menyukai kekurangan dalam diri ini. Kaget juga karena apa yang terlihat kadang tak sesuai dengan harapan.
Dia yang pertama kulihat sangat dewasa, ternyata anaknya ceroboh. Masa pakai high heels yang tingginya tidak seberapa aja keseleo. Bagaimana kalau dia pakai seperti yang sering dipakai para model papan atas saat berjalan di catwalk?
Selain itu, ternyata dia manja juga. Gara-gara tidak bisa tidur dia minta ibunya buat nemenin, lah aku harus tidur di mana? Dan ternyata itu hanya akal-akalan dia saja. Nggak nyangka dia yang kelihatanya jujur bisa bohong juga.
“Ini,” kata ibu mertua-ku sambil menaruh minyak kayu putih di tangan.
“Untuk apa bu?” tanyaku yang masih bingung, karena sejujurnya aku tidak merasa butuh dengan benda itu.
“Untuk istri kamu. Kalau kelelahan dia biasanya minta diolesin ini sebelum tidur.”
“Oh...,” jawabku mulai paham.
___
Suatu hari aku melihat seorang perempuan yang duduk seorang diri di depan sebuah mini market. Di depannya tergeletak satu bungkus roti tawar dan satu pouch susu coklat. Biasanya aku tidak terlalu suka memperhatikan orang, tapi entah kenapa mata seakan tidak ingin lepas dari memandangnya.
Dia mulai membuka roti dan juga susu coklat yang baru dibelinya itu. Kemudian melumuri salah satu sisi roti dan menutupnya dengan roti yang lain. Aku pikir dia akan langsung memakannya. Ternyata dia meletakkan roti tersebut dan mulai melumuri roti yang berikutnya.
Setelah itu, kulihat dia memanggil dua anak kecil yang sedang mengambil botol bekas yang ada di depan mini market tersebut. Keduanya terlihat ragu. Namun kemudian kulihat dia tersenyum ramah. Senyum yang mampu menghilangkan keraguan dari kedua bocah itu.
Sempat kulihat dia mengobrol sebentar dengan mereka. Sepertinya dia menyuruh anak-anak tersebut untuk menunggu, karena kulihat dia masuk dan membeli satu botol air mineral ukur satu setengah liter. Setelah membayar dia langsung keluar dan menemui kedua anak itu lagi.
Aku hanya memperhatikannya dari balik kaca mini market. Kaca yang sebagiannya diblur, sehingga dapat menyamarkan pandanganku padanya. Sebenarnya aku ingin menyudahi ini, tapi rasa penasaran ini tak mampu kutahan demi melihat apa yang akan dia lakukan selanjutnya.
Kulihat dia membuka botol dan membasuh tangan kedua anak itu. Setelah itu, dia memberikan roti yang sudah diolesnya tadi. Kedua anak itu terlihat menikmati roti pemberiannya. Saat keduanya asyik makan diapun mengambil roti lagi. Bedanya kali ini dia hanya mengambil satu lembar dan melipatnya.
Melihat pemandangan seperti itu, terbesit dalam pikiran untuk memilikinya. Dia yang begitu peduli dengan orang lain, membuatku teringat bagaimana pertemuan pertama dengan orang tua angkatku dulu. Mereka yang telah menolongku ketika aku dalam keadaan benar-benar terpuruk.
Entah setan apa yang merasukiku hingga betah berlama-lama memandangnya. Akhirnya kedua anak pemulung itu pergi setelah menghabiskan jatah mereka masing-masing.
Dia memberikan sisa roti, susu coklat dan juga air mineral yang dibelinya tadi. Selain itu, dia juga memberikan buku yang tidak jelas terlihat dari posisiku saat ini.
Setelah mereka pergi, kulihat dia menundukkan kepalanya di atas lipatan tangan yang ada di meja. Aku buru-buru membayar belanjaanku. Niatnya pengen menghampiri dia dan mengajaknya kenalan.
Baru saja aku keluar dari tempat tersebut, ketika kulihat dia dibangunkan oleh seorang laki-laki.
Aku lihat sepertinya dia kesal. Sejujurnya aku kurang mengerti apa yang mereka omongin. Sepertinya mereka berbicara menggunakan bahasa daerah.
Ingin rasanya kuikuti kemana mereka pergi. Tapi ada perasaan takut, bagaimana jika lelaki itu adalah suaminya? Akhirnya akupun mengurungkan niat tersebut.
___
Seperti sebuah takdir. Esok harinya ketika aku mengunjungi salah tempat wisata yang ada di Ibu Kota ini, aku kembali melihatnya. Tapi kali ini tidak kulihat lelaki yang kemarin menemaninya.
Yang aku lihat dia sedang bersama dengan beberapa orang pria. Tiba-tiba pikiran jahat berkelebat dibenakku tentang apa yang sebenarnya terjadi. Mungkinkah dia?
Adzan dzuhur berkumandang dari Masjid yang ada di tempat wisata tersebut. Akupun segera menuju masjid dan mengambil wudlu. Selesai sholat kulihat salah seorang dari mereka yang tadi bersamanya.
Akupun memberanikan diri untuk bertanya padanya. Kebetulan letak sepatuku berdekatan dengan laki-laki tersebut.
“Sendirian Mas?” tanyaku ramah. Dia tampak kaget.
Tak lama kemudian dia menjawab, “nggak bareng beberapa teman sekolah dulu.”
‘Oh ternyata teman sekolah toh,’ seruku dalam hati.
“Kalau perempuan yang tadi?” tanyaku tanpa sadar. Kulihat dia mengerutkan dahi heran. “Oh tadi aku sempat melihat Mas dan teman-temannya. Dan aku lihat ada seorang perempuan bersama kalian,” ucapku buru-buru. Jangan sampai dia berpikir yang tidak-tidak.
“Yang mana ya?” tanyanya. “Karena sebenarnya di sana ada istriku dan juga istri temanku, Afif,” jelasnya.
“Yang pakai kerudung merah hati?” tanyaku.
“Owh Mbak Nur. Kalau yang itu sih belum ada yang punya,” jawabnya.
Mendengar kata belum ada yang punya, secara tidak sadar aku tersenyum.
“Kenapa? Tertarik sama Mbak Nur ya?” tanyanya, “dia susah didapetin loh,” lanjutnya.
Aku tidak tahu harus menjawab apa, jadi hanya tersenyum mendengar ucapannya tersebut.
“Bukan berarti nggak mungkin sih. Toh jodoh kan sudah ada yang mengatur. Iya nggak?” tanyanya lagi, “mau aku kenalin?” tawarnya.
“Nggak usah terima kasih. Lagian seperti yang Mas bilang tadi kalau jodoh sudah ada yang mengatur. Jadi kalau memang dia jodohku, Allah pasti akan mempertemukan kami lagi suatu saat nanti,” jawabku panjang lebar.
“Syid ayo!” seseorang memanggilnya dari kejauhan.
“Duluan Mas?”
“Oh ya silahkan.” Akupun berlalu meninggalkan tempat tersebut.
___
Lama tidak berkunjung ke rumah orang tua angkatku, akhirnya hari ini aku putuskan untuk datang. Setibanya di sana aku merasa kaget karena banyak orang. Ternyata mereka sedang mengadakan syukuran. Mereka memang sering melakukannya.
“Kamu sudah pulang?” tanya Mama begitu melihatku.
“Iya baru semalam Mah. Omong-omong ada acara apa nih?”
“Hanya syukuran biasa,” jawabnya, “ayo makan dulu!” ajak Mama sambil menarik lenganku menuju dapur.
“Ayah di mana Mah?”
“Dia lagi ngisi pengajian di Masjid,” jawabnya, “Oh ya nanti bantuain Mama kirim-kirim ya?”
Aku hanya mengangguk sebagai tanda setuju.
___
“Ini tugasmu yang terakhir. Tolong antarkan ke rumah Ustadz Bukhori. Masih ingatkan rumahnya?” tanyanya.
“Tentu aku masih ingat. Berangkat dulu Mah,” kataku setelah mencium tangannya. Ustadz Bukhori adalah kenalan kedua orang tuaku. Meskipun dia lebih muda dari mereka, tapi kedua orang tua angkatku sangat menghormatinya. Itu semua tidak terlepas dari peran orang tuanya yang merupakan salah satu Kyai yang dihormati di daerah tersebut.
Jarak rumahnya memang lumayan jauh. Tapi kedua orang tua angkatku tidak pernah ketinggalan mengiriminya. Apapun syukuran yang mereka berdua niatkan.
“Assalamu’alaikum,” ucapku begitu sampai di depan pintu rumahnya.
“Wa’alaikum salam warahmatullah,” jawab seseorang dari dalam. Aku cukup melihat siapa yang membukakan pintu. Dia adalah laki-laki yang pernah aku lihat bersama Nur. Temannya bilang kalau dia adalah kakaknya, tapi sedang apa dia di sini?
“Ada siapa Lid?” tanya istri Ustadz Bukhori.
“Nggak tahu Bi,” jawabnya.
“Oh Mas Yusuf. Masuk Mas,” pintanya, “Lid temeni Mas Yusuf dulu, Bibi mau buatkan minum dulu.”
“Tidak perlu repot-repot Ustadzah. Saya hanya mengantarkan ini dari Mamah,” cegahku.
“Nggak ngerepotin kok. Lagian masa iya ada tamu dibiarin gitu aja. Sebentar kok. Duduklah dulu sama Kholid. Dia keponakan saya dari Cirebon.”
“Mas Kholid sering datang kesini?” tanyaku setelah beberapa saat terdiam.
“Nggak juga sih. Kebetulan kemarin adikku ingin jalan-jalan di sini. Nggak mungkinkan bawa dia ke kosanku. Secara di sana laki-laki semua. Jadi ya aku ajak dia menginap di sini. Tadi pagi sih sudah kuantar pulang. Sekarang sih mau mengambil cargeran yang kebetulan ketinggalan di sini. Makanya terpaksa balik lagi kesini.”
“Owh... .”
“Mas sendiri sudah lama kenal keluarga ini?” tanyanya.
“Ya lumayan lama. Mas kerja di sini?”
“Sebenarnya sih, tempat kerja saya di Tangerang.”
“Sudah berapa lama?” tanyaku lagi.
“Kalau di tempat yang sekarang ini mungkin baru sekitar dua tahunan. Tapi, sebelumnya juga pernah kerja di tempat lain,” jawabnya.
“Wah kayaknya sudah langsung akrab aja nih. Sudah ngoborlin apa aja?” tanya istri Ustadz Bukhori yang baru saja datang dengan nampan di tangannya.
“Nggak banyak kok Bi, ya baru tanya sudah berapa lama sudah berapa Mas Yusuf ini kenal sama Paman dan Bibi dan juga soal pekerjaan,” dia langsung menjawab sebelum aku sempat membuka suara.
“Benar begitu Mas Yusuf?” tanya ustadzah Hindun, istri Ustadz Bukhori.
Aku hanya mengangguk mengiyakan.
“Oh ya Bi ini sudah sore, aku langsung pulang saja.”
“Nggak sekalian sholat maghrib dulu? Kayaknya sebentar lagi mau adzan,”
“Iya. Mau sholat di Masjid depan sana. Sekalian nunggu angkot,” jawabnya, “mari Mas duluan.”
“Tunggu Mas, kita bareng saja. Kalau jalan kakikan lumayan jauh. Saya juga pamit Ustadzah.”
“Iya hati-hati.”
“Assalamu’alaikum,” ucap kami berdua kompak.
“Wa’alaikum salam warahmatullah.”
___
Sebenarnya sudah beberapa kali orang tua angkatku menawarkan, tapi entah kenapa ada saja yang tidak cocok. Bukan karena alasan fisik, tapi lebih kepada sifat mereka. Mereka dan keluarganya selalu membicarakan kelebihan-kelebihan yang anaknya miliki. Padahal tidak ada manusia sempurna di dunia ini. Bagiku itu terasa seperti sebuah kesombongan.
Pernah suatu kali, orang tuaku mengajakku untuk ta’aruf dengan seseorang. Mereka mengundang kami untuk makan malam bersama. Keluarganya bilang kalau anak gadisnya ini pintar masak. Semua makanan yang ada di meja dia yang masak. Percaya? Tentu tidak! Karena aku tahu betul dari mana masakan ini berasal. Akupun sering pesan di tempat tersebut.
“Wah nggak ada telur mata sapi ya?” tanyaku pura-pura.
“Owh nak Yusuf suka telur mata sapi ya? Kalau begitu biar ibu minta Dinda buatkan ya?” kata sang ibu pemilik rumah.
“Nggak usah tante. Nggak apa-apa kok. Aku nggak mau ngerepotin,” kataku.
Mama sepertinya mengerti kalau ini hanya akal-akalanku saja untuk melihat gadis yang bernama dinda itu masak. Dia langsung membela gadis itu.
“Yusuf kamu jangan keterlaluan deh. Dinda sudah masak sebanyak ini, kamu masih minta telur mata sapi lagi!” Ingin rasanya aku tertawa mendengar ucapan Mama tersebut.
Aku paham betul dengan sifat manusia yang selalu ingin pamer. Apalagi dia terlanjur berbohong dan terlanjur mengatakan kalau semua itu adalah masakannya. Pastinya sang ibu akan merasa gengsi dan akan memaksa anaknya untuk memasak pesananku.
Kejadian hari itu diakhiri dengan teriakan Dinda dari dapur. Dan akhirnya terbongkar sudah kebohongan mereka.
“Gimana mau masak semua itu, kalau masak telur mata sapi aja nggak becus,” sindirku dan langsung berlalu dari dapur. Aku benar-benar sudah tidak peduli lagi ketika sang ibu memanggil-manggil namaku. Saat memutar mobil, kudengar suara Dinda menangis histeris. “Masa bodo lah! Siapa suruh bohong,” ucapku dalam hati.
___
Sekitar seminggu setelah pertemuan itu, aku, kedua orang tua angkatku, Ustadz Bukhori dan istrinya mendatangi rumah gadis itu. Gadis yang sudah membuatku jatuh sejak pandangan pertama. Gadis yang sudah membuatku yakin untuk menikahinya sejak pertama kali melihatnya. Gadis yang terlihat sederhana, namun memiliki hati yang luar biasa. Oh beginikah rasanya benar-benar jatuh cinta.
Perjalanan dari Ibu kota ke Cirebon lumayan memakan waktu. Tapi, seperti ada kekuatan yang entah dari mana, sedikitpun aku merasa tidak capek.
Ustadzah Hindun kalau dia lupa jalan menuju rumah Nur. Akhirnya dia meminta untuk ke rumah orang tuanya terlebih dahulu, baru kemudian ke rumah Nur bersama-sama. Karena waktunya sudah hampir dzuhur, kami meutuskan untuk sholat dulu di rumah mertuanya Ustadz Bukhori.
Selesai sholat kami langsung melanjutkan perjalanan ke rumah gadisku, nggak apa-apakan kalau aku memanggilnya seperti itu. Kalau sudah sah, baru aku panggil istriku. Aduh efek kelamaan jomblo deh kayaknya. Baru juga mau melamar. Diterima juga belum tentu. Ah... aku jadi deg-degan kayak gini sih.
Ternyata rumahnya ada di Indramayu. Kedatanganku dan keluarga memang sudah diberitahukan sebelumnya melalui Mas Kholid. Dan sepertinya mereka sudah mempersiapkan segalanya. Tapi kok aku nggak melihat gadisku sih. Kemana dia?
“Dia masih ada di Madrasah. Pulangnya sekitar habis ashar,” kata calon ibu mertuaku yang sepertinya mengerti kalau mata ini mencari-cari keberadaan gadis itu.
“Oh.....,” jawabku singkat.
Pertemuan inipun dilanjutkan dengan obrolan antar orang tua. Aku hanya sesekali menimpali jika ditanya. Itupun hanya jawaban singkat, seperti oh, iya, setuju, dan lain-lain.
Karena nggak bisa bertemu dengan orangnya, ibuku akhirnya meminta foto dari gadis yang sudah membuat anaknya ini jadi ngebet pengen nikah.
Ibu mertuaku terlihat seperti kebingungan. Selidik punya selidik ternyata anak gadisnya tidak suka di foto. Dia bilang anaknya itu memang suka fotografi, tapi bukan sebagai modelnya melainkan sebagai juru foto. Setelah beberapa masuk ke kamar, akhirnya ibu camerku keluar dengan selembar foto yang ada di tangan.
Aku tidak percaya melihat gayanya berfoto tersebut. Tangannya terlihat seperti sedang menari sambil duduk. Kata ibunya foto itu diambil ketika perpisahan di pondoknya dulu. Tentang pose itu, katanya tidak sengaja. Justru foto itu diambil ketika dia belum siap. Tapi justru hasilnya lumayan, jadi boleh dibilang foto itu bagus hanya karena kebetulan.
Setelah sholat ashar bersama, kami semua pamit undur diri. Mertuanya Ustadz Bukhori tidak ikut pulang. Katanya dia ingin menginap dulu. Biar besok Nur yang mengantarkan dia pulang ke cirebon. Awalnya Mamah keberatan, tapi begitu mendengar kalau Nur sudah biasa mengatarnya, akhirnya Mamahpun mau mengerti.
___
Aku pikir kata-kata seperti ‘kalau jodoh takkan kemana,’ memang benar adanya. Buktinya ketika aku berpikir kalau dia sudah bersuami, kami malah bertemu namun dia bersama dengan orang lain. Ketika sempat terbesit pikiran kalau dia bukan gadis baik-baik, Allah mengirimkan temannya. Ketika aku kebingungan kemana aku harus mencarinya, lagi-lagi Allah mempertemukan diriku dengan kakak dan bibinya. Pertemuan itu membuatku semakin yakin untuk memilihnya.
Mungkin bagi sebagian orang alasanku jatuh cinta, tidak terlalu logis. Tapi bagiku inilah hal terlogis yang Allah berikan untukku bertemu dengan jodohku.
Itulah kisahku yang berakhir dengan pernikahan dengan sang gadis pilihan hati. Meskipun belum banyak mengenalnya, tapi aku rasa kami masih memiliki banyak waktu untuk lebih saling mengenal. Aku hanya berharap semoga Allah SWT. selalu memberikan kami kemudahan untuk menjalani rumah tangga kami kedepannya nanti. Aamiin.

Pengen sih manggil yang senior dalam kepenulisan yang ada di grup ini. tapi belum pede euy. Jadi bagi yang siapapun yang baca sangat diharapkan krisannya. Trims.

Kamis, 21 Mei 2015

SILATURAIM MEMPERPANJANG UMUR


Percayakah anda bahwa silaturahmi memperpanjang umur? Atau juga sebaliknya memutuskan silaturahmi memperpendek umur? Anda boleh percaya boleh tidak.
Suatu malam sehabis sholat maghrib, di salah satu musholla yang khusus dihuni oleh ibu-ibu, aku mendengarkan perbincangan mereka.  Salah satu dari ibu-ibu tersebut sudah ada yang bergelar Haji/Hajjah (karena dia dan suaminya memang sudah pergi haji).  Dia menceritakan pengalamannya dengan besan-besannya.
Ibu Haji itu memiliki beberapa orang anak.  Anaknya yang pertama pernah membina rumah tangga dengan seorang perempuan.  Lalu kemudian bercerai.  Alasan perceraiannya adalah karena perempuan tersebut kerja di luar negri dan berhasil.  Begitu pulang ke rumah si perempuan tersebut membangun rumahnya sendiri.  Setelah setengah jadi, diperkirakan duit untuk membangun rumah tersebut kurang.  Akhirnya perempuan ini berangkat lagi ke luar negri.  Di rumah, anak Ibu Haji ini tidak tinggal diam.  Dia berusaha mewujudkan bakal rumahnya tersebut semampu dan sebisa dia.  Ketika ada waktu luang (biasanya setelah musim tanam padi) dia berusaha menggali sumur untuk membangun tempat pembuangan kotoran seorang diri.  Sekiranya ada yang kurang dan dia mampu mengerjakannya seorang diri, dia akan lakukan.
Akhirnya setelah dua tahun istrinya pulang.  Bukannya berterima kasih pada suami yang sudah membantu membangun rumahnya tersebut, perempuan itu malah minta cerai.  Padahal selama istrinya pergi dia selalu berbuat baik terhadap keluarga istrinya.  Jika dia mempunyai rezeki dia akan berbagi dengan mertuanya tersebut. 
Suatu panen, Ibu Hajji memberikan beberapa kandek padi untuk anaknya ini.  Dia membawanya pulang ke rumah istrinya itu.  Keesokan harinya ketika dia baru pulang kerja, semua padi yang dia kumpulkan hilang.  Ternyata padi-padi tersebut dijual oleh mertuanya dan dia mendapatkan sedikitpun uang dari hasil penjualan padi tersebut.  Meskipun begitu dia mencoba tetap sabar.  Tapi kenapa saat pulang justru istrinya malah meminta cerai darinya?
Banyak tetangga yang berbisik bahwa ibu dari perempuan tersebutlah yang mengompori anaknya untuk meminta cerai dari suaminya.  Mau tidak mau anak Ibu Hajji itupun menerima keputusan dari istrinya.  Dan setelah beberapa tahun berlalu besan Ibu Hajji itupun meninggal dunia.
Hal yang hampir sama juga terjadi pada anaknya yang kedua.  Hanya saja besan lelaki dari Ibu Hajji tersebut yang mengompori anaknya untuk meminta cerai dari suaminya setelah pulang dari luar negri.  Dan besan lelakinya itupun juga meninggal dunia.
Kisah yang lainnya adalah yaitu kisah seorang lebe (aku tidak tahu istilah dalam Bahasa Indonesianya apa, tapi di desaku lebe adalah termasuk orang desa yang biasa mengurusi kematian dan beberapa hal lain).
Ceritanya ketika ada seorang laki-laki yang ditinggal mati oleh istrinya.  Dia tertarik pada istri dari adik iparnya.  Gilanya, si istri dari adik iparnya juga ternyata ada rasa dengan kakak ipar suaminya tersebut.  Mau langsung meminta cerai pada suami, alasannya apa, karena memang sebenarnya suaminya itu tidak salah apa-apa.  Si istripun mencari cara bagaimana agar si suami mau menceraikan dirinya. Perempuan inipun menemukan sebuah ide.
Dia meminta bantuan seorang lebe.  Akhirnya lebe inipun datang kerumah perempuan itu dan meminta tanda tangan dari suami perempuan itu.  Si lebe mengatakan bahwa istrinya ingin kembali bekerja ke luar negri lagi, sehingga membutuhkan tanda tangan suami untuk surat izin suami.  Siapa yang menyangka ternyata surat yang dibawa oleh si lebe adalah surat cerai, bukan surat izin suami.  Akhirnya suami-isrti inipun bercerai, dan kemudian si istri menikah dengan kakak ipar suaminya.
Hanya sekitar satu atau dua tahun kemudian si lebe ini meninggal.  Bukan hanya itu, rumah tangga si lebe juga berantakan.  Sebelum meninggal dia terlilit hutang.  Anak-anak dan istrinya meninggalkan dia.  Sementara suami kedua dari perempuan itu juga akhirnya meninggal saat anak mereka baru berumur sekitar dua atau tiga tahun.

Walau bagaimanapun kehidupan ini Allah-lah yang mengaturnya.  Kita manusia hanya menjalankan apa yang telah Allah takdirkan untuk kita semua.  Terlepas dari percaya atau tidaknya akan kisah di atas, namun kita dapat mengambil hikmah di balik kisah di atas.

                                                                                    By
                                                                                    S. M.
                                                                        21 – MEI – 2015