Kamis, 21 Mei 2015

SILATURAIM MEMPERPANJANG UMUR


Percayakah anda bahwa silaturahmi memperpanjang umur? Atau juga sebaliknya memutuskan silaturahmi memperpendek umur? Anda boleh percaya boleh tidak.
Suatu malam sehabis sholat maghrib, di salah satu musholla yang khusus dihuni oleh ibu-ibu, aku mendengarkan perbincangan mereka.  Salah satu dari ibu-ibu tersebut sudah ada yang bergelar Haji/Hajjah (karena dia dan suaminya memang sudah pergi haji).  Dia menceritakan pengalamannya dengan besan-besannya.
Ibu Haji itu memiliki beberapa orang anak.  Anaknya yang pertama pernah membina rumah tangga dengan seorang perempuan.  Lalu kemudian bercerai.  Alasan perceraiannya adalah karena perempuan tersebut kerja di luar negri dan berhasil.  Begitu pulang ke rumah si perempuan tersebut membangun rumahnya sendiri.  Setelah setengah jadi, diperkirakan duit untuk membangun rumah tersebut kurang.  Akhirnya perempuan ini berangkat lagi ke luar negri.  Di rumah, anak Ibu Haji ini tidak tinggal diam.  Dia berusaha mewujudkan bakal rumahnya tersebut semampu dan sebisa dia.  Ketika ada waktu luang (biasanya setelah musim tanam padi) dia berusaha menggali sumur untuk membangun tempat pembuangan kotoran seorang diri.  Sekiranya ada yang kurang dan dia mampu mengerjakannya seorang diri, dia akan lakukan.
Akhirnya setelah dua tahun istrinya pulang.  Bukannya berterima kasih pada suami yang sudah membantu membangun rumahnya tersebut, perempuan itu malah minta cerai.  Padahal selama istrinya pergi dia selalu berbuat baik terhadap keluarga istrinya.  Jika dia mempunyai rezeki dia akan berbagi dengan mertuanya tersebut. 
Suatu panen, Ibu Hajji memberikan beberapa kandek padi untuk anaknya ini.  Dia membawanya pulang ke rumah istrinya itu.  Keesokan harinya ketika dia baru pulang kerja, semua padi yang dia kumpulkan hilang.  Ternyata padi-padi tersebut dijual oleh mertuanya dan dia mendapatkan sedikitpun uang dari hasil penjualan padi tersebut.  Meskipun begitu dia mencoba tetap sabar.  Tapi kenapa saat pulang justru istrinya malah meminta cerai darinya?
Banyak tetangga yang berbisik bahwa ibu dari perempuan tersebutlah yang mengompori anaknya untuk meminta cerai dari suaminya.  Mau tidak mau anak Ibu Hajji itupun menerima keputusan dari istrinya.  Dan setelah beberapa tahun berlalu besan Ibu Hajji itupun meninggal dunia.
Hal yang hampir sama juga terjadi pada anaknya yang kedua.  Hanya saja besan lelaki dari Ibu Hajji tersebut yang mengompori anaknya untuk meminta cerai dari suaminya setelah pulang dari luar negri.  Dan besan lelakinya itupun juga meninggal dunia.
Kisah yang lainnya adalah yaitu kisah seorang lebe (aku tidak tahu istilah dalam Bahasa Indonesianya apa, tapi di desaku lebe adalah termasuk orang desa yang biasa mengurusi kematian dan beberapa hal lain).
Ceritanya ketika ada seorang laki-laki yang ditinggal mati oleh istrinya.  Dia tertarik pada istri dari adik iparnya.  Gilanya, si istri dari adik iparnya juga ternyata ada rasa dengan kakak ipar suaminya tersebut.  Mau langsung meminta cerai pada suami, alasannya apa, karena memang sebenarnya suaminya itu tidak salah apa-apa.  Si istripun mencari cara bagaimana agar si suami mau menceraikan dirinya. Perempuan inipun menemukan sebuah ide.
Dia meminta bantuan seorang lebe.  Akhirnya lebe inipun datang kerumah perempuan itu dan meminta tanda tangan dari suami perempuan itu.  Si lebe mengatakan bahwa istrinya ingin kembali bekerja ke luar negri lagi, sehingga membutuhkan tanda tangan suami untuk surat izin suami.  Siapa yang menyangka ternyata surat yang dibawa oleh si lebe adalah surat cerai, bukan surat izin suami.  Akhirnya suami-isrti inipun bercerai, dan kemudian si istri menikah dengan kakak ipar suaminya.
Hanya sekitar satu atau dua tahun kemudian si lebe ini meninggal.  Bukan hanya itu, rumah tangga si lebe juga berantakan.  Sebelum meninggal dia terlilit hutang.  Anak-anak dan istrinya meninggalkan dia.  Sementara suami kedua dari perempuan itu juga akhirnya meninggal saat anak mereka baru berumur sekitar dua atau tiga tahun.

Walau bagaimanapun kehidupan ini Allah-lah yang mengaturnya.  Kita manusia hanya menjalankan apa yang telah Allah takdirkan untuk kita semua.  Terlepas dari percaya atau tidaknya akan kisah di atas, namun kita dapat mengambil hikmah di balik kisah di atas.

                                                                                    By
                                                                                    S. M.
                                                                        21 – MEI – 2015

ORANG GILA




Apa yang ada dalam pikiran kita semua ketika mendengar atau membicarakan kata-kata tersebut? Mungkin ada yang merasa kassihan, jijik, atau bahkan biasa-biasa saja.
Hampir setiap hari dalam satu minggu aku pulang pergi dari Indramayu ke Cirebon kemudian pulang lagi ke Indramayu (karena tempat kuliahku berada di Cirebon).  Dan setiap melakukan perjalanan tersebut, ada beberapa pengalaman yang terkadang membuat aku merasa miris karena semakin banyak saja orang gila yang berkeliaran di jalanan.
Dari rumah menuju kampus, bisa ditempuh melalui dua jalur yang berbeda.  Jalur pertama melewati jalur Jatibarang atau Kertasmaya.  Yang kedua adalah melewati jalur Karang Ampel.  Tapi, aku lebih sering melewati jalur yang kedua, selain lebih dekat jalannannya juga relativ lebih sepi daripada jalur yang perttama.
Ketika melewati Karang Ampel ada satu orang gila yang setiap hari mangkal di sana.  Tapi herannya hanya pagi hari aku melihatnya, sementara sore hari ketika aku pulang dari kampus, dia jarang kelihatan hanya dua atau tiga kali aku pernah melihatnya.  Meskipun sedikit penasaran, tapi masa iya aku harus ngikutin orang gila tersebut.
Beberapa kali aku juga melihat orang gila yang sama di daerah lain yang masih satu jalur.  Pertama kali melihatnya aku merasa kaget, karena menurut aku dia tidak terlihat seperti orang gila, mungkin karena dia masih berpakaian lengkap.  Waktu itu dari arah belakng aku melihat ada mobil mendekat, jadi aku memutuskan untuk berjalan sedikit ke pinggir.  Tiba-tiba orang gila tersebut seperti hendak memukulkan kayu yang ada ditangannya kepadaku.  Sontak aku kaget, untung aku masih bisa mengendalikan motor hingga tidak sampai jatuh.  Beberapa hari kemudian aku melihat orang gila yang sama, dan karena aku sudah tahu dia kurang waras, maka akupun berjalan agak sedikit ke tengah.
Di hari yang lainnya aku melihat seorang laki-laki yang mengendarai motor.  Tapi ada yang aneh dengan laki-laki tersebut.  Dia mengendarai motornya sambil berteriak-teriak nggak jelas, aku jadi ngerasa takut sendiri.  Akhirnya aku putuskan untuk tancap gas dan kabur secepatnya.  Dalam hati berkata, wah makin banyak dan semakin aneh saja orang gila pada zaman sekarang.
Yang paling parah adalah ketika suatu hari ban motorku bocor.  Waktu itu aku berdua dengan temanku.  Kami memutuskan untuk menambal ban di by pass terlebih dahulu.  Saat itu kami berdua duduk di bangku yang ada di tempat tersebut.  Karena capek duduk, aku meutuskan untuk berdiri sejenak.  Betapa kagetnya ketika aku menengok ke salah satu arah yang letaknya tidak jauh dari tempat tersebut, aku melihat orang gila sedang duduk di bawah pohon.  Akupun memutuskan utnuk dudu kembali dan berbisik kepada temanku tentang keberadaan orang gila tersebut.  Temanku berdiri dan melihatnya sebentar, lalu duduk lagi.
Tidak lama setelah temanku duduk kembali, datanglah seorang laki-laki menegndarai motor.  Pemilik bengkel tambal ban tersebut masuk ke dalam, diikuti oleh laki-laki yang baru datang tersebut.  Aku merasa penasaran dengan laki-laki yang baru datang tersebut, akupun pura-pura kecapean dan menggerak-gerakkan kepalaku ke kanan dan ke kiri.  Laki-laki tersebut tidak lama kemudian pergi.  Aku berbisik pada temanku, ‘menurut kamu yang barusan datang itu siapa? “Preman yang menagih uang keamanan,” jawab temanku.  “Aku juga berpikir demikian,” kataku.
Tidak berapa lama setelah preman tersebut pergi, banku yang bocorpun selesai diperbaiki.  Kemudian aku membayar ongkos tambal ban tersebut.  Saat saya membayar, Bapak tersebut memperingatkan kami.  “Awas! Orang gila tersebut sering melempari batu,” kata Bapak tersebut pada kami.  “Sebaiknya kalian jalan agak ke tengah dan tancap gas,” lanjut Bapak tersebut.  Benar kata Bapak tersebut, baru saja aku menstarter motor aku, orang gila tersebut berdiri sambil menggenggam kerikil di tangannya.  Akupun menuruti omongan Bapak tersebut.  Benar saja orang gila tersebut melempari kami, untungnya tidak mengenai aku ataupun temanku.
Masih banyak lagi orang gila yang pernah aku temui selama perjalana pulang-pergi dari rumah ke kampus.  Dan tidak mungkin aku sebutkan satu per satunya.
Ya Allah Yang Maha Pengasih, jangan biarkan aku menjadi seperti mereka.  Selalu lindungi aku, selalu ingatkan aku, dan berilah yang terbaik untukku, keluargaku, guru-guruku, teman-temanku seiman dan se-Islam.  Karena Engkaulah Yang Maha Mengetahui segala yang ada di bumi dan di langit.  Amiin.....

 By : Syarifah Mudaim.