Percayakah anda bahwa silaturahmi memperpanjang umur? Atau juga sebaliknya memutuskan silaturahmi memperpendek umur? Anda boleh percaya boleh tidak.
Suatu
malam sehabis sholat maghrib, di salah satu musholla yang khusus dihuni oleh
ibu-ibu, aku mendengarkan perbincangan mereka.
Salah satu dari ibu-ibu tersebut sudah ada yang bergelar Haji/Hajjah
(karena dia dan suaminya memang sudah pergi haji). Dia menceritakan pengalamannya dengan
besan-besannya.
Ibu
Haji itu memiliki beberapa orang anak. Anaknya
yang pertama pernah membina rumah tangga dengan seorang perempuan. Lalu kemudian bercerai. Alasan perceraiannya adalah karena perempuan
tersebut kerja di luar negri dan berhasil.
Begitu pulang ke rumah si perempuan tersebut membangun rumahnya
sendiri. Setelah setengah jadi,
diperkirakan duit untuk membangun rumah tersebut kurang. Akhirnya perempuan ini berangkat lagi ke luar
negri. Di rumah, anak Ibu Haji ini tidak
tinggal diam. Dia berusaha mewujudkan bakal
rumahnya tersebut semampu dan sebisa dia.
Ketika ada waktu luang (biasanya setelah musim tanam padi) dia berusaha
menggali sumur untuk membangun tempat pembuangan kotoran seorang diri. Sekiranya ada yang kurang dan dia mampu
mengerjakannya seorang diri, dia akan lakukan.
Akhirnya
setelah dua tahun istrinya pulang. Bukannya
berterima kasih pada suami yang sudah membantu membangun rumahnya tersebut,
perempuan itu malah minta cerai. Padahal
selama istrinya pergi dia selalu berbuat baik terhadap keluarga istrinya. Jika dia mempunyai rezeki dia akan berbagi
dengan mertuanya tersebut.
Suatu
panen, Ibu Hajji memberikan beberapa kandek padi untuk anaknya ini. Dia membawanya pulang ke rumah istrinya
itu. Keesokan harinya ketika dia baru
pulang kerja, semua padi yang dia kumpulkan hilang. Ternyata padi-padi tersebut dijual oleh
mertuanya dan dia mendapatkan sedikitpun uang dari hasil penjualan padi
tersebut. Meskipun begitu dia mencoba
tetap sabar. Tapi kenapa saat pulang
justru istrinya malah meminta cerai darinya?
Banyak
tetangga yang berbisik bahwa ibu dari perempuan tersebutlah yang mengompori
anaknya untuk meminta cerai dari suaminya.
Mau tidak mau anak Ibu Hajji itupun menerima keputusan dari
istrinya. Dan setelah beberapa tahun
berlalu besan Ibu Hajji itupun meninggal dunia.
Hal
yang hampir sama juga terjadi pada anaknya yang kedua. Hanya saja besan lelaki dari Ibu Hajji
tersebut yang mengompori anaknya untuk meminta cerai dari suaminya setelah
pulang dari luar negri. Dan besan
lelakinya itupun juga meninggal dunia.
Kisah
yang lainnya adalah yaitu kisah seorang lebe (aku tidak tahu istilah dalam Bahasa
Indonesianya apa, tapi di desaku lebe adalah termasuk orang desa yang biasa mengurusi
kematian dan beberapa hal lain).
Ceritanya
ketika ada seorang laki-laki yang ditinggal mati oleh istrinya. Dia tertarik pada istri dari adik
iparnya. Gilanya, si istri dari adik
iparnya juga ternyata ada rasa dengan kakak ipar suaminya tersebut. Mau langsung meminta cerai pada suami,
alasannya apa, karena memang sebenarnya suaminya itu tidak salah apa-apa. Si istripun mencari cara bagaimana agar si
suami mau menceraikan dirinya. Perempuan inipun menemukan sebuah ide.
Dia
meminta bantuan seorang lebe. Akhirnya lebe
inipun datang kerumah perempuan itu dan meminta tanda tangan dari suami
perempuan itu. Si lebe mengatakan bahwa
istrinya ingin kembali bekerja ke luar negri lagi, sehingga membutuhkan tanda
tangan suami untuk surat izin suami. Siapa
yang menyangka ternyata surat yang dibawa oleh si lebe adalah surat cerai,
bukan surat izin suami. Akhirnya suami-isrti
inipun bercerai, dan kemudian si istri menikah dengan kakak ipar suaminya.
Hanya
sekitar satu atau dua tahun kemudian si lebe ini meninggal. Bukan hanya itu, rumah tangga si lebe juga
berantakan. Sebelum meninggal dia terlilit
hutang. Anak-anak dan istrinya
meninggalkan dia. Sementara suami kedua
dari perempuan itu juga akhirnya meninggal saat anak mereka baru berumur
sekitar dua atau tiga tahun.
Walau
bagaimanapun kehidupan ini Allah-lah yang mengaturnya. Kita manusia hanya menjalankan apa yang telah
Allah takdirkan untuk kita semua. Terlepas
dari percaya atau tidaknya akan kisah di atas, namun kita dapat mengambil
hikmah di balik kisah di atas.
By
S. M.
21
– MEI – 2015