Banyak
alasan yang membuat orang jatuh cinta. Tapi aku hanya memilih alasan yang
menurut aku logis.
Aku
baru saja menikahi seorang gadis yang baru beberapa hari lalu aku lihat,
walaupun tidak sepenuhnya benar. Karena pertama kali aku melihatnya, aku
langsung meyakinkan diri ini untuk mencintainya.
___
Menikah
karena dijodohkan rasanya campur-campur. Senang karena akhirnya ada yang mau. Di
sisi lain, takut jika akhirnya dia tidak menyukai kekurangan dalam diri ini.
Kaget juga karena apa yang terlihat kadang tak sesuai dengan harapan.
Dia
yang pertama kulihat sangat dewasa, ternyata anaknya ceroboh. Masa pakai high
heels yang tingginya tidak seberapa aja keseleo. Bagaimana kalau dia pakai
seperti yang sering dipakai para model papan atas saat berjalan di catwalk?
Selain
itu, ternyata dia manja juga. Gara-gara tidak bisa tidur dia minta ibunya buat
nemenin, lah aku harus tidur di mana? Dan ternyata itu hanya akal-akalan dia
saja. Nggak nyangka dia yang kelihatanya jujur bisa bohong juga.
“Ini,”
kata ibu mertua-ku sambil menaruh minyak kayu putih di tangan.
“Untuk
apa bu?” tanyaku yang masih bingung, karena sejujurnya aku tidak merasa butuh
dengan benda itu.
“Untuk
istri kamu. Kalau kelelahan dia biasanya minta diolesin ini sebelum tidur.”
“Oh...,”
jawabku mulai paham.
___
Suatu
hari aku melihat seorang perempuan yang duduk seorang diri di depan sebuah mini
market. Di depannya tergeletak satu bungkus roti tawar dan satu pouch susu
coklat. Biasanya aku tidak terlalu suka memperhatikan orang, tapi entah kenapa mata
seakan tidak ingin lepas dari memandangnya.
Dia
mulai membuka roti dan juga susu coklat yang baru dibelinya itu. Kemudian melumuri
salah satu sisi roti dan menutupnya dengan roti yang lain. Aku pikir dia akan
langsung memakannya. Ternyata dia meletakkan roti tersebut dan mulai melumuri roti yang berikutnya.
Setelah
itu, kulihat dia memanggil dua anak kecil yang sedang mengambil botol bekas
yang ada di depan mini market tersebut. Keduanya terlihat ragu. Namun kemudian
kulihat dia tersenyum ramah. Senyum yang mampu menghilangkan keraguan dari
kedua bocah itu.
Sempat
kulihat dia mengobrol sebentar dengan mereka. Sepertinya dia menyuruh anak-anak
tersebut untuk menunggu, karena kulihat dia masuk dan membeli satu botol air
mineral ukur satu setengah liter. Setelah membayar dia langsung keluar dan
menemui kedua anak itu lagi.
Aku
hanya memperhatikannya dari balik kaca mini market. Kaca yang sebagiannya diblur,
sehingga dapat menyamarkan pandanganku padanya. Sebenarnya aku ingin menyudahi
ini, tapi rasa penasaran ini tak mampu kutahan demi melihat apa yang akan dia
lakukan selanjutnya.
Kulihat
dia membuka botol dan membasuh tangan kedua anak itu. Setelah itu, dia
memberikan roti yang sudah diolesnya tadi. Kedua anak itu terlihat menikmati roti
pemberiannya. Saat keduanya asyik makan diapun mengambil roti lagi. Bedanya
kali ini dia hanya mengambil satu lembar dan melipatnya.
Melihat
pemandangan seperti itu, terbesit dalam pikiran untuk memilikinya. Dia yang
begitu peduli dengan orang lain, membuatku teringat bagaimana pertemuan pertama
dengan orang tua angkatku dulu. Mereka yang telah menolongku ketika aku dalam
keadaan benar-benar terpuruk.
Entah
setan apa yang merasukiku hingga betah berlama-lama memandangnya. Akhirnya
kedua anak pemulung itu pergi setelah menghabiskan jatah mereka masing-masing.
Dia
memberikan sisa roti, susu coklat dan juga air mineral yang dibelinya tadi.
Selain itu, dia juga memberikan buku yang tidak jelas terlihat dari posisiku
saat ini.
Setelah
mereka pergi, kulihat dia menundukkan kepalanya di atas lipatan tangan yang ada
di meja. Aku buru-buru membayar belanjaanku. Niatnya pengen menghampiri dia dan
mengajaknya kenalan.
Baru
saja aku keluar dari tempat tersebut, ketika kulihat dia dibangunkan oleh
seorang laki-laki.
Aku
lihat sepertinya dia kesal. Sejujurnya aku kurang mengerti apa yang mereka
omongin. Sepertinya mereka berbicara menggunakan bahasa daerah.
Ingin
rasanya kuikuti kemana mereka pergi. Tapi ada perasaan takut, bagaimana jika
lelaki itu adalah suaminya? Akhirnya akupun mengurungkan niat tersebut.
___
Seperti
sebuah takdir. Esok harinya ketika aku mengunjungi salah tempat wisata yang ada
di Ibu Kota ini, aku kembali melihatnya. Tapi kali ini tidak kulihat lelaki
yang kemarin menemaninya.
Yang
aku lihat dia sedang bersama dengan beberapa orang pria. Tiba-tiba pikiran
jahat berkelebat dibenakku tentang apa yang sebenarnya terjadi. Mungkinkah dia?
Adzan
dzuhur berkumandang dari Masjid yang ada di tempat wisata tersebut. Akupun
segera menuju masjid dan mengambil wudlu. Selesai sholat kulihat salah seorang
dari mereka yang tadi bersamanya.
Akupun
memberanikan diri untuk bertanya padanya. Kebetulan letak sepatuku berdekatan
dengan laki-laki tersebut.
“Sendirian
Mas?” tanyaku ramah. Dia tampak kaget.
Tak
lama kemudian dia menjawab, “nggak bareng beberapa teman sekolah dulu.”
‘Oh
ternyata teman sekolah toh,’ seruku dalam hati.
“Kalau
perempuan yang tadi?” tanyaku tanpa sadar. Kulihat dia mengerutkan dahi heran.
“Oh tadi aku sempat melihat Mas dan teman-temannya. Dan aku lihat ada seorang
perempuan bersama kalian,” ucapku buru-buru. Jangan sampai dia berpikir yang
tidak-tidak.
“Yang
mana ya?” tanyanya. “Karena sebenarnya di sana ada istriku dan juga istri
temanku, Afif,” jelasnya.
“Yang
pakai kerudung merah hati?” tanyaku.
“Owh
Mbak Nur. Kalau yang itu sih belum ada yang punya,” jawabnya.
Mendengar
kata belum ada yang punya, secara tidak sadar aku tersenyum.
“Kenapa?
Tertarik sama Mbak Nur ya?” tanyanya, “dia susah didapetin loh,” lanjutnya.
Aku
tidak tahu harus menjawab apa, jadi hanya tersenyum mendengar ucapannya
tersebut.
“Bukan
berarti nggak mungkin sih. Toh jodoh kan sudah ada yang mengatur. Iya nggak?”
tanyanya lagi, “mau aku kenalin?” tawarnya.
“Nggak
usah terima kasih. Lagian seperti yang Mas bilang tadi kalau jodoh sudah ada
yang mengatur. Jadi kalau memang dia jodohku, Allah pasti akan mempertemukan
kami lagi suatu saat nanti,” jawabku panjang lebar.
“Syid
ayo!” seseorang memanggilnya dari kejauhan.
“Duluan
Mas?”
“Oh
ya silahkan.” Akupun berlalu meninggalkan tempat tersebut.
___
Lama
tidak berkunjung ke rumah orang tua angkatku, akhirnya hari ini aku putuskan
untuk datang. Setibanya di sana aku merasa kaget karena banyak orang. Ternyata
mereka sedang mengadakan syukuran. Mereka memang sering melakukannya.
“Kamu
sudah pulang?” tanya Mama begitu melihatku.
“Iya
baru semalam Mah. Omong-omong ada acara apa nih?”
“Hanya
syukuran biasa,” jawabnya, “ayo makan dulu!” ajak Mama sambil menarik lenganku
menuju dapur.
“Ayah
di mana Mah?”
“Dia
lagi ngisi pengajian di Masjid,” jawabnya, “Oh ya nanti bantuain Mama kirim-kirim
ya?”
Aku
hanya mengangguk sebagai tanda setuju.
___
“Ini
tugasmu yang terakhir. Tolong antarkan ke rumah Ustadz Bukhori. Masih ingatkan
rumahnya?” tanyanya.
“Tentu
aku masih ingat. Berangkat dulu Mah,” kataku setelah mencium tangannya. Ustadz
Bukhori adalah kenalan kedua orang tuaku. Meskipun dia lebih muda dari mereka,
tapi kedua orang tua angkatku sangat menghormatinya. Itu semua tidak terlepas
dari peran orang tuanya yang merupakan salah satu Kyai yang dihormati di daerah
tersebut.
Jarak
rumahnya memang lumayan jauh. Tapi kedua orang tua angkatku tidak pernah
ketinggalan mengiriminya. Apapun syukuran yang mereka berdua niatkan.
“Assalamu’alaikum,”
ucapku begitu sampai di depan pintu rumahnya.
“Wa’alaikum
salam warahmatullah,” jawab seseorang dari dalam. Aku cukup melihat siapa yang
membukakan pintu. Dia adalah laki-laki yang pernah aku lihat bersama Nur.
Temannya bilang kalau dia adalah kakaknya, tapi sedang apa dia di sini?
“Ada
siapa Lid?” tanya istri Ustadz Bukhori.
“Nggak
tahu Bi,” jawabnya.
“Oh
Mas Yusuf. Masuk Mas,” pintanya, “Lid temeni Mas Yusuf dulu, Bibi mau buatkan
minum dulu.”
“Tidak
perlu repot-repot Ustadzah. Saya hanya mengantarkan ini dari Mamah,” cegahku.
“Nggak
ngerepotin kok. Lagian masa iya ada tamu dibiarin gitu aja. Sebentar kok.
Duduklah dulu sama Kholid. Dia keponakan saya dari Cirebon.”
“Mas
Kholid sering datang kesini?” tanyaku setelah beberapa saat terdiam.
“Nggak
juga sih. Kebetulan kemarin adikku ingin jalan-jalan di sini. Nggak mungkinkan
bawa dia ke kosanku. Secara di sana laki-laki semua. Jadi ya aku ajak dia
menginap di sini. Tadi pagi sih sudah kuantar pulang. Sekarang sih mau
mengambil cargeran yang kebetulan ketinggalan di sini. Makanya terpaksa balik
lagi kesini.”
“Owh...
.”
“Mas
sendiri sudah lama kenal keluarga ini?” tanyanya.
“Ya
lumayan lama. Mas kerja di sini?”
“Sebenarnya
sih, tempat kerja saya di Tangerang.”
“Sudah
berapa lama?” tanyaku lagi.
“Kalau
di tempat yang sekarang ini mungkin baru sekitar dua tahunan. Tapi, sebelumnya
juga pernah kerja di tempat lain,” jawabnya.
“Wah
kayaknya sudah langsung akrab aja nih. Sudah ngoborlin apa aja?” tanya istri
Ustadz Bukhori yang baru saja datang dengan nampan di tangannya.
“Nggak
banyak kok Bi, ya baru tanya sudah berapa lama sudah berapa Mas Yusuf ini kenal
sama Paman dan Bibi dan juga soal pekerjaan,” dia langsung menjawab sebelum aku
sempat membuka suara.
“Benar
begitu Mas Yusuf?” tanya ustadzah Hindun, istri Ustadz Bukhori.
Aku
hanya mengangguk mengiyakan.
“Oh
ya Bi ini sudah sore, aku langsung pulang saja.”
“Nggak
sekalian sholat maghrib dulu? Kayaknya sebentar lagi mau adzan,”
“Iya.
Mau sholat di Masjid depan sana. Sekalian nunggu angkot,” jawabnya, “mari Mas
duluan.”
“Tunggu
Mas, kita bareng saja. Kalau jalan kakikan lumayan jauh. Saya juga pamit
Ustadzah.”
“Iya
hati-hati.”
“Assalamu’alaikum,”
ucap kami berdua kompak.
“Wa’alaikum
salam warahmatullah.”
___
Sebenarnya
sudah beberapa kali orang tua angkatku menawarkan, tapi entah kenapa ada saja
yang tidak cocok. Bukan karena alasan fisik, tapi lebih kepada sifat mereka.
Mereka dan keluarganya selalu membicarakan kelebihan-kelebihan yang anaknya
miliki. Padahal tidak ada manusia sempurna di dunia ini. Bagiku itu terasa seperti
sebuah kesombongan.
Pernah
suatu kali, orang tuaku mengajakku untuk ta’aruf dengan seseorang. Mereka mengundang
kami untuk makan malam bersama. Keluarganya bilang kalau anak gadisnya ini pintar
masak. Semua makanan yang ada di meja dia yang masak. Percaya? Tentu tidak!
Karena aku tahu betul dari mana masakan ini berasal. Akupun sering pesan di
tempat tersebut.
“Wah
nggak ada telur mata sapi ya?” tanyaku pura-pura.
“Owh
nak Yusuf suka telur mata sapi ya? Kalau begitu biar ibu minta Dinda buatkan
ya?” kata sang ibu pemilik rumah.
“Nggak
usah tante. Nggak apa-apa kok. Aku nggak mau ngerepotin,” kataku.
Mama
sepertinya mengerti kalau ini hanya akal-akalanku saja untuk melihat gadis yang
bernama dinda itu masak. Dia langsung membela gadis itu.
“Yusuf
kamu jangan keterlaluan deh. Dinda sudah masak sebanyak ini, kamu masih minta
telur mata sapi lagi!” Ingin rasanya aku tertawa mendengar ucapan Mama
tersebut.
Aku
paham betul dengan sifat manusia yang selalu ingin pamer. Apalagi dia terlanjur
berbohong dan terlanjur mengatakan kalau semua itu adalah masakannya. Pastinya
sang ibu akan merasa gengsi dan akan memaksa anaknya untuk memasak pesananku.
Kejadian
hari itu diakhiri dengan teriakan Dinda dari dapur. Dan akhirnya terbongkar
sudah kebohongan mereka.
“Gimana
mau masak semua itu, kalau masak telur mata sapi aja nggak becus,” sindirku dan
langsung berlalu dari dapur. Aku benar-benar sudah tidak peduli lagi ketika
sang ibu memanggil-manggil namaku. Saat memutar mobil, kudengar suara Dinda
menangis histeris. “Masa bodo lah! Siapa suruh bohong,” ucapku dalam hati.
___
Sekitar
seminggu setelah pertemuan itu, aku, kedua orang tua angkatku, Ustadz Bukhori
dan istrinya mendatangi rumah gadis itu. Gadis yang sudah membuatku jatuh sejak
pandangan pertama. Gadis yang sudah membuatku yakin untuk menikahinya sejak
pertama kali melihatnya. Gadis yang terlihat sederhana, namun memiliki hati
yang luar biasa. Oh beginikah rasanya benar-benar jatuh cinta.
Perjalanan
dari Ibu kota ke Cirebon lumayan memakan waktu. Tapi, seperti ada kekuatan yang
entah dari mana, sedikitpun aku merasa tidak capek.
Ustadzah
Hindun kalau dia lupa jalan menuju rumah Nur. Akhirnya dia meminta untuk ke
rumah orang tuanya terlebih dahulu, baru kemudian ke rumah Nur bersama-sama.
Karena waktunya sudah hampir dzuhur, kami meutuskan untuk sholat dulu di rumah
mertuanya Ustadz Bukhori.
Selesai
sholat kami langsung melanjutkan perjalanan ke rumah gadisku, nggak apa-apakan
kalau aku memanggilnya seperti itu. Kalau sudah sah, baru aku panggil istriku.
Aduh efek kelamaan jomblo deh kayaknya. Baru juga mau melamar. Diterima juga
belum tentu. Ah... aku jadi deg-degan kayak gini sih.
Ternyata
rumahnya ada di Indramayu. Kedatanganku dan keluarga memang sudah diberitahukan
sebelumnya melalui Mas Kholid. Dan sepertinya mereka sudah mempersiapkan
segalanya. Tapi kok aku nggak melihat gadisku sih. Kemana dia?
“Dia
masih ada di Madrasah. Pulangnya sekitar habis ashar,” kata calon ibu mertuaku
yang sepertinya mengerti kalau mata ini mencari-cari keberadaan gadis itu.
“Oh.....,”
jawabku singkat.
Pertemuan
inipun dilanjutkan dengan obrolan antar orang tua. Aku hanya sesekali menimpali
jika ditanya. Itupun hanya jawaban singkat, seperti oh, iya, setuju, dan lain-lain.
Karena
nggak bisa bertemu dengan orangnya, ibuku akhirnya meminta foto dari gadis yang
sudah membuat anaknya ini jadi ngebet pengen nikah.
Ibu
mertuaku terlihat seperti kebingungan. Selidik punya selidik ternyata anak
gadisnya tidak suka di foto. Dia bilang anaknya itu memang suka fotografi, tapi
bukan sebagai modelnya melainkan sebagai juru foto. Setelah beberapa masuk ke
kamar, akhirnya ibu camerku keluar dengan selembar foto yang ada di tangan.
Aku
tidak percaya melihat gayanya berfoto tersebut. Tangannya terlihat seperti
sedang menari sambil duduk. Kata ibunya foto itu diambil ketika perpisahan di
pondoknya dulu. Tentang pose itu, katanya tidak sengaja. Justru foto itu
diambil ketika dia belum siap. Tapi justru hasilnya lumayan, jadi boleh dibilang
foto itu bagus hanya karena kebetulan.
Setelah
sholat ashar bersama, kami semua pamit undur diri. Mertuanya Ustadz Bukhori
tidak ikut pulang. Katanya dia ingin menginap dulu. Biar besok Nur yang
mengantarkan dia pulang ke cirebon. Awalnya Mamah keberatan, tapi begitu
mendengar kalau Nur sudah biasa mengatarnya, akhirnya Mamahpun mau mengerti.
___
Aku
pikir kata-kata seperti ‘kalau jodoh takkan kemana,’ memang benar adanya.
Buktinya ketika aku berpikir kalau dia sudah bersuami, kami malah bertemu namun
dia bersama dengan orang lain. Ketika sempat terbesit pikiran kalau dia bukan
gadis baik-baik, Allah mengirimkan temannya. Ketika aku kebingungan kemana aku
harus mencarinya, lagi-lagi Allah mempertemukan diriku dengan kakak dan
bibinya. Pertemuan itu membuatku semakin yakin untuk memilihnya.
Mungkin
bagi sebagian orang alasanku jatuh cinta, tidak terlalu logis. Tapi bagiku
inilah hal terlogis yang Allah berikan untukku bertemu dengan jodohku.
Itulah
kisahku yang berakhir dengan pernikahan dengan sang gadis pilihan hati.
Meskipun belum banyak mengenalnya, tapi aku rasa kami masih memiliki banyak
waktu untuk lebih saling mengenal. Aku hanya berharap semoga Allah SWT. selalu
memberikan kami kemudahan untuk menjalani rumah tangga kami kedepannya nanti. Aamiin.
Pengen
sih manggil yang senior dalam kepenulisan yang ada di grup ini. tapi belum pede
euy. Jadi bagi yang siapapun yang baca sangat diharapkan krisannya. Trims.