Senin, 08 Desember 2014

BERBOHONG?????

Pernah mendengar kalau seseorang melakukan sebuah kebohongan, maka dia akan melakukan kebohongan selanjutnya demi menutupi kebohongan yang pertama.  Saya rasa itu memang benar adanya, karena saya baru saja melakukannya, ha...ha...ha...(orang ngelakuin dosa kok seneng).  Sebenarnya bukan seneng sih, hanya sedikit gimana gitu?????

Sejujurnya saya benci jika harus berbohong, karena saya pernah pengalaman buruk tentang hal tersebut.  Saya masih ingat, ketika itu sedang UAS (Ujian Akhir Semester), saya datang terlambat karena waktu itu tugas yang seharusnya dikumpulkan hari belum saya print.  Sayapun mencari tempat untuk ngeprint tulisan saya.  Singkat cerita saya tidak mengikuti UAS tersebut.  Untungnya saya tidak sendirian ada satu lagi teman sekelas saya yang tidak mengikuti UAS tersebut.  Saya menghubungi-nya untuk bertanya bagaimana nasib kita berdua selanjutnya.

Pada hari yang sudah ditentukan Bapak meminta saya dan teman saya tersebut dan seorang lagi dari kelas lain untuk menemui-nya di ruangan sebelah kantor jurusan.  saat itu kami bertiga serasa jadi terdakwa yang mau dibacakan vonis hukumannya.  Kami bertiga ditanyai satu persatu, dimulai dari anak kelas lain (saya lupa waktu itu Bapak ngomong apa saja, terlalu panjang dan lebar bo nasihatnya).  setelah selesai dengan anak itu kini giliran teman sekelasku, dia membawa surat keterangan dari dokter yang mengatakan bahwa dia benar-benar sakit. 

Saat kami meminta pengertian atau keringanan dari Bapak, saya juga mengatakan bahwa saya sedang sakit hingga tidak bisa mengikuti UAS.  Tapi saat saya mendengar Bapak mengatakan kepada teman saya bahwa, di sekolahnya dulu siswa diizinkan tidak mengikuti UAS jika siswa tersebut benar-benar dalam keadaan sakit parah atau sekarat.  Selain itu, Bapak juga mengatakan bahwa dia tidak begitu percaya pada surat keterangan dari dokter yang teman saya bawa tersebut.  Mendengar hal itu, dalam hati saya berkata, "wah kalau seperti ini kasusnya, saya harus berkata yang sejujur-nya."  Maksud saya baik, yaitu tidak ingin berbohong lebih dalam lagi, tapi kenyataanya itu adalah pilihan yang salah, sangat salah, dan mungkin akan lebih baik jika saya berbohong.

Yang paling menyakitkan adalah saya tidak lulus mata kuliah tersebut, padahal selama semester itu saya selalu datang ke kelas Bapak tersebut.  Meskipun saya tahu Beliau tidak masuk, saat itu saya benar-benar merasa tidak adil, kenapa "dia" jarang masuk kami tidak ada yang protes sementara, saya yang mencoba untuk berkata jujur........ ah..... saya tidak tahu harus bagaimana.  Yang bisa saya lakukan adalah menerima konsekuensi dari satu kebohongan yang telah saya lakukan.

Sampai saat ini (satu tahun kemudian) rasanya saya masih sering kesal jika melihat Bapak itu.  Kalau bertemu di jalan saya lebih memilih untuk menghindar daripada harus berhadapan muka dengannya.

Dah dulu ya curahan hatiku hari ini...... lain waktu disambung lagi....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar